Abu Rayhan Muhammad Ibn Ahmad Al-Biruni lahir pada tahun 973M di provinsi Khurasan, di Timur Laut Persia. Sama seperti anak-anak lain di masanya, beliau dididik di usia muda untuk memelajari bahasa Arab dan bahasa Persia, ilmu-ilmu Islam yang mendasar, dan ilmu pengetahuan alam. Dari awal, beliau telah meminati kajian matematika dan astronomi sehingga beliau menjadi seorang spesialis dalam dua bidang ilmu tersebut. Beliau adalah seorang astronom terkemuka.
Al-Biruni merupakan seorang polymath Persia Muslim, yang hidup rentang tahun 973M hingga 1048M. Sepanjang karirnya, Al-Biruni menjadi ahli dalam berbagai cabang keilmuan, termasuk sejarah, fisika, matematika, astronomi, linguistik, perbandingan agama, dan ilmu bumi.
Di usia 20 tahun, beliau pindah jauh dari daerah asalnya demi menimba ilmu pengetahuan. Selama 3 tahun ia melakukan perjalanan di seluruh Persia, belajar dari para ilmuan tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan hingga pada tahun 998M, beliau menetap di Jurjan (Gorgan). Beliau menjadi pegawai pemerintah setempat, Shams al-Ma’ali Qabus. Selama 10 tahun berikutnya, beliau tinggal di kota kecil di wilayah tenggara Iran. Di tempat inilah beliau melakukan penelitian, menulis buku, dan semakin banyak belajar.
Al-Biruni tidak merampungkan beberapa karya monumentalnya hingga beliau pindah ke Ghazni. Sebuah wilayah yang berada di bawah naungan Sultan Mahmud. Di masa itu, Ghazni adalah sebuah kota yang besar. Kerajaan Sultan Mahmud membentang jauh melampaui perbatasan Afghanistan modern. Di kerajaan yang kuat ini, Al-Biruni memiliki sumber daya dan kemampuan untuk menunjukkan apa yang ia mampu lakukan.
Mendapatkan anugerah kecerdasan yang mampu melahirkan ide-ide baru dengan mudah, Al-Biruni dengan cepat berhasil menguasai bahasa Sansekerta dan bahasa liturgi Hindu. Kemampuan ini membuka khazanah pengetahuan baru. Selama 75 tahun masa hidupnya, Al-Biruni berhasil merevolusi banyak tradisi keilmuan. Saat beliau meninggal pada tahun 1048M, beliau telah menulis lebih dari 100 buku, yang saat ini banyak yang telah punah. Kecerdasan dan penguasaannya terhadap berbagai cabang keilmuan dan kemampuannya untuk mensinergikannya berhasil melahirkan pemahaman ilmu yang lebih baik sesuai dengan fungsinya. Hal ini juga menjadikannya termasuk di antara para ilmuan muslim terbesar sepanjang masa.
Pada bidang matematika, Al-Biruni memberikan banyak ide yang hingga sekarang masih digunakan, seperti Aritmatika teoritis dan praktis, penjumlahan seri, analisis kombinatorial, kaidah angka 3, bilangan irrasional, teori perbandingan, definisi aljabar, metode pemecahan penjumlahan aljabar, geometri, teorema Archimedes, dan sudut segitiga. Selain itu, beliau mengembangkan metode untuk membagi sudut dan masalah lainnya yang tidak dapat diselesaikan dengan penggaris dan kompas.
Salah satu buku yang ditulis Al-Biruni, Qanun-i Masoodi (Al Qanun Al Masudi, fi Al Hai’a wa Al Nujum), membahas beberapa teorema astronomi, trigonometri, matahari, bulan, dan gerakan planet. Selain itu, buku yang lainnya yaitu Kitab Al Jamahar, berkaitan dengan sifat-sifat dari berbagai batu mulia.
Al-Biruni merupakan salah seorang ahli nujum dan terkenal berteman dengan teman-teman yang akurat dalam meramal. Beliau memberikan penjelasan yang jelas tentang angka Hindu dan menguraikan prinsip posisi atau place value. Penjumlahan dari appropos geometrik dari permainan catur menyebabkan pembentukan formula kompleks untuk pertama kalinya, yaitu 〖16〗^(〖16〗^0 )-1=18,446,744,073,709,551,619.
Kontribusi lainnya dari seorang Al-Biruni dalam bidang matematika adalah pembuktian teorema “The Broken Chord”. Teorema “The Broken Chord” : “Jika AB dan BC membentuk sebuah penghubung dua titik lingkaran yang terputus seperti pada gambar 1,

dan DE tegak lurus terhadap bagian yang lebih panjang yaitu AB dari titik tengah busur ABC, maka AE=EB+BC.

Petunjuk :
Buat EZ=EB dan hubungkan DZ dan DB seperti pada gambar 2. Hubungkan busur AD dan DC.

Jika AZ=BC dapat dibuktikan, maka dengan mudah mengikuti bahwa AE=AZ+ZE dan AE=BC+EB atau AE=EB+BC sehingga teorema terbukti.

Bukti 1.
∠DZB=∠ZAD+∠ZDA
Tetapi, ∠DBZ=∠DZB sehingga ∠DBZ=∠ZAD+∠ZDA
Sekarang, ∠DBZ dihadapkan pada setengah busur (yaitu AD)
∠ZAD dihadapkan pada busur DB
Sehingga ∠ZDA dihadapkan pada busur BC
Jadi, ∠ADZ=∠CDB dan ∠A=∠C
Dengan demikian, ∆AZD dan ∆CBD sebanding.
Sisi AD= Sisi DC
∆AZD dan ∆CBD adalah sama
Oleh karena itu, AZ=BC
Bukti 2.
Buat EZ=EB. Hubungkan DZ dan DB sehingga mereka menjadi sama. Hubungkan AD,AC, dan DC seperti pada gambar 3.

∠DBC dan ∠DAC dihadapkan pada busur DC
Sekarang, busur DC= busur AD
∠DBA=∠DCA=45°
∠DBA=∠DAC=∠DZE
∠DBC=∠DZA
∠DAB=∠DCB
Karena DZ=DB
∆AZD=∆DBC
Sehingga, AZ=BC
Dengan memperpanjang CB,DB, dan EB ke F,M, dan T berturut-turut, selanjutnya Al-Biruni menambahkan sebagai berikut :
Sudut pelengkap dari ∠DBC adalah ∠CBM
Maka, ∠MBC=∠DBA dimana ∠EBC adalah irisannya
∠DBC=∠EBM
Tetapi, ∠EBM=∠DBT=∠DZA
Kesimpulannya ∠DBC=∠DZA
Abu Rayhan al-Biruni pun menghabiskan masa-masa akhir hayatnya di Ghazni (Pakistan) dan meninggal kemudian dikuburkan disana. Pada tahun 1.048M Demi mengenang jasanya, para astronom mengabadikan nama Al-Biruni di kawah bulan.

Daftar Pustaka
Mohamed, Mohaini. 2004. Matematikawan Muslim Terkemuka. Jakarta : Salemba Teknika
Anonim. 2004. Biography ABU RAIHAN AL BIRUNI (Abu Raihan Mohammad Ibn Ahmad AL Biruni)(973-1048 AD).Qatar : Qatar Medical Journal. Vol. 123, No. 21.
Anonim. 2016. Sejarah Al-Biruni, Profil Ilmuwan Muslim yang Luar Biasa. http://kisahmuslim.com/5631-al-biruni-profil-ilmuan-muslim-yang-luar-biasa.html Diakses pada 30 Mei 2018 pukul 02.25 WIB

perasaan khawatir karena tak lolos sama sekali tidak dirasakan, yg dirasakan hanya perasaan akan kehilangan sahabat-sahabat terbaik yang selalu mengerti, itulah yang dirasakan. Mungkin jika dipandang oleh orang, ini terlalu berlebihan. Tapi menurut beberapa pribadi yang benar-benar telah memiliki sahabat yang saling mengerti, ini susah. Melihat kenyataan yang ada sekarang dan memperkiraan keadaan di masa yang akan datang, hal yang awalnya menyenangkan akan menjadi hal yang mungkin sama sekali tidak menyenangkan. Hari pertama dan hari terakhir bersama hanya 1 hari dimana hari itu mungkin tidak bisa terulang seperti dulu. Tidak ada yang salah, mungkin perasaan ini yang terlalu egois terhadap diri sendiri. Menginginkan kebersamaan yang selalu dan selamanya tanpa memikirkan keadaan yang sebenarnya.

Sekarang, yang beberapa orang tahu, keadaan mulai berubah, ini baru awal, masih ada hari-hari selanjutnya yang mungkin akan berubah 180 derajat dari keadaan awal kita bertemu. Masih ada beberapa orang yang berusaha kembali seperti semula, tapi jika itu dipaksakan akan ada banyak hati yang terluka dan tersakiti.

Kehidupan ini memang penuh dengan kejutan, di saat kebersamaan telah terjalin dengan erat, di saat itu pulalah dihancurkan dengan begitu rapi dan perlahan. Allah SWT memiliki cara tersendiri untuk membuat semuanya menjadi lebih baik, dan mungkin cara menurut-Nya terbaik adalah seperti ini yaitu merasakan kesendirian di sekeliling orang-orang yang selalu menemani dengan janji “kita akan selalu ada buat kamu di saat kamu butuh”.

Ada hal yang telah disadari, perkiraan dan keinginan akan jauh berbeda dengan kenyataan yang akan terjadi. Berada pada keadaan yang kalut, bukan berarti dapat menyimpulkan kondisi yang akan terjadi. Karena dalam kehidupan ini bukan hanya beberapa orang saja yang merasakan dan berpikiran seperti yang beberapa orang itu rasakan dan pikirkan, kehidupan ini selalu ditemani oleh orang-orang yang mungkin selalu menghargai dan menemani dalam kondisi apapun.

Pergi menjauh untuk melupakan dan meninggalkan sesuatu hal di saat merasakan kekalutan bukan satu-satunya jalan yang dapat ditempuh. Jalan yang mungkin terbaik untuk ditempuh jika ingin pergi dan menjauh dari kekalutan adalah mendekatkan diri kepada-Nya dan menceritakan kekalutan yang dirasakan kepada orang-orang yang mungkin selalu menemani. Atau mungkin, mengamati kekalutan pada pribadi masing-masing sehingga dapat merubah diri menjadi lebih baik atau kembali menjadi pribadi yang dulu dikenal orang adalah pribadi yang menyenangkan. Dalam kehidupan selalu ada permasalahan dan “kita harus bisa berada dalam posisi apapun, kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun”

Dia baik, dia ramah, dia rendah hati, dia sopan, dia menghormati siapapun, dia … dan dia masih seperti orang yang kukenal dulu. Sepertinya dia belum berubah, atau mungkin sudah berubah, aku tidak tau pasti apa yang terjadi dengannya saat ini.

Bertemu dengannya memang keinginanku dari dulu, tapi aku tidak bisa mengindahkan permintaanku sendiri karena aku tidak ingin mengetahui keberadaannya dan apa yang telah dia kerjakan sampai saat ini. Aku mungkin punya keinginan untuk melakukan hal-hal gila seperti dulu, tapi aku juga memiliki keinginan untuk melupakan apapun yang telah terjadi. Ini kehidupan yang penuh dengan teka-teki. Mungkin saja memang aku harus belajar dari masa lalu untuk menjalani kehidupan saat ini dan menjalani kehidupan selanjutnya, tapi aku mencoba untuk tidak mengungkitnya lagi ke masa saat ini dan masa depanku

Jika dia datang menemuiku, aku yakin itu tidak mungkin, aku tetap tidak mau, apapun alasannya. Karena aku sudah menjalani kehidupan yang aku mau yaitu tanpa orang yang pernah menyakitiku dan meninggalkanku tanpa ada kata-kata.

Dia memang memiliki aura pemikat perempuan yang mungkin dia sendiri tidak mengetahuinya, tapi aku tau dia memiliki itu. Gayanya, cara bicaranya, pandangannya, pendapatnya, semua yang ada di dirinya membuat banyak perempuan merasa terpikat dengannya. Itu bukan suatu kesalahan, menurutku, itu suatu kewajaran yang mungkin bagi banyak orang tidak wajar karena seakan dia memiliki alat pemikat yang mistis.

Menurutku, walalupun aku tidak ingin mengenalnya dan mengetahuinya lagi, aku akan tetap menganggap dia sebagai temanku. hanya sebagai teman 🙂

Pengalaman pertama di UNY. sebelum cerita, perkenalkan namaku Tesa Maulidani Wijaya, biasa dipanggil Tesa kalo di lingkungan sekolah dan biasa dipanggil Cece atau Danik kalo di lingkungan rumah. Aku kelahiran Semarang pada tanggal 16 Juli 1997. Aku tidak punya saudara alias anak tunggal.

Pada saat masih duduk di bangku SMA kelas 12, aku udah mulai cari-cari informasi soal PTN di internet sama dari tanya2 guru BK. Singkat cerita, akhirnya aku milih satu PTS di Yogyakarta yaitu Universitas Ahmad Dahlan dengan prodi

Awal masuk di UNY dari ujian SBMPTN. Sebelumnya aku ikut SNMPTN dengan pilihan pertama di UGM prodi matematika dan pilihan kedua di UNY prodi matematika, tapi ngga lolos seleksi. Tapi itu ngga bikin aku patah semangat buat bisa kuliah di PTN.